Hippocampus

Lagu ‘mother’ yang dinyanyikan Seamo berdering dari HP butut di atas lemari. Secepat gerakan refleks, saya menyambar benda berwarna hitam silver itu lalu menekan tombol bergambar telepon  hijau (untuk menjawab), karena sesuai nada dering, panggilan kali ini pasti dari mama. Setiap kali menelepon atau ditelpon mama atau papa, ada ritual penting yang wajib dilakukan selain mengucapkan salam. Pertama, Pasti menanyakan kabar. Kedua, “Sudah menelepon or ditelepon abang?”. Ketiga,ma, doakan via ya”, lalu dengan jawaban yang selalu sama “iyaaaa… sayang” *so sweet kan.

Naah… karena ditanya udah menelepon or ditelepon abang, saya baru menyadari sudah lebih dari satu minggu tidak mengontak sodara saya satu-satunya ini.

Ahhh… saya jadi merindukan abang. Really, truly, deeply, and madly miss him *alay

Saya pun memutar kembali memori tentang abang. Saya mengakses kembali file-file penting yang tersimpan di kompleks hippocampus otak saya. Sedikit hentakan  membawa saya jauh mundur ke masa lalu, seumpama memasuki lorong waktu. Seperti memasukkan cairan memori ke pensieve, saya berenang mengarungi kenangan masa kecil yang terangkai apik bersama abang *efekoverdosisharrypotter

Saya pun mulai meng-klik satu per satu file yang berlabel “abangkusatu”

saya bisa melihat saat abang berbisik usil kepadaku “Via, via bukan anak mama atau papa. Lihat saja, sama sekali ga mirip kan”. sekitar 20 detik kemudian, saya menangis sejadi-jadinya. Akibatnya, abangpun dapat ultimatum dari papa dan ujung-ujungnya abang berbisik lagi “Yaaa… ga asyik ah. Nangisnya lama banget, di luar dugaan”.

Walaupun sering diusili dan menjadi target utama misi kejahilan abang, saya tidak pernah jera mengekor abang. Saya tetap setia duduk di samping abang, mendengarnya berceloteh tentang Manchester United, Klub kesayangannya. Yang paling saya suka, kami sering main ‘sepakbola kertas’. Kami menggunting kertas manila berukuran 6 x 3 cm lalu melipatnya dan menjadikannya sebagai atlit sepakbola. Kami memanfaatkan bakal bunga jambu air sebagai bola, gelas plastik sebagai gawang, dan lidi sebagai garis batas lapangan. Seperti biasa, aku sering kalah (malah tepatnya tidak pernah menang secara nyata, kecuali dinyatakan lain). Terkadang karena merasa geli sekaligus iba melihat adeknya belum pernah menyarangkan satu gol pun, abang pura-pura tak sengaja melakukan gol bunuh diri. Yaah, alhasil pertempuran berakhir imbang.

Saya mengklik file yang lain…

Naah, ini benarbenar yang saya benci sekaligus saya rindukan dari abang. Abang paling suka mengejutkan saya saat lagi serius membaca. Abang juga paling senang melihat wajah saya merah mirip tomat + mata berair akibat penderitaan saya saat digelitik habis-habisan sampai guling-guling di lantai. Abang bahkan sangat bahagia dengan trik andalannya ‘jurus upil’ untuk pura-pura mengancamku. Hhhh… abang, abang. *gelenggeleng

Kenangan berpindah…
Kayuh dulu sepedanya, kalau ga dikayuh mana bisa jalan”.
Tidak seperti pelajaran lain yang diberikan abang, saya selalu berhasil menjadi murid terbaiknya *ya iyalah, muridnya cuma daku seorang.
Kali ini abang gagal sebagai guru karena murid satu-satunya sampai sekarang terbukti dan dijamin belum bisa mengendarai sepeda, semua spesies sepeda. Makanya, sekarang abang sering berpesan, “ntar kalo mau nyari pasangan hidup, cari yang shaleh, pintar, sabar, dan yang terpenting bersedia dengan ikhlas mengajari naik sepeda sampai level ‘mahir’
*wuaaaa… syarat yang terakhir kayaknya susah bang…
Hari gini, siapa coba yang mau ngajarin naik sepeda *hopeless Sad smile

Meloncat ke memori berikutnya…
Mata saya berkaca-kaca memandang sosok mungil yang muntah-muntah dan kejang. Sosok itu adalah rara, kucing peliharaanku. Orang serumah jadi heboh karena tragedi rara yang ‘overdosis’. Orangtua pun bingung mau bantu apa, merekapun bertanya ke tetangga. Ada yang menyarankan diberi jeruk nipis, diberi jeruk purut, dan yang paling tragis malah disarankan memberi racun tikus untuk mempersingkat penderitaan rara. Abang yang juga bingung melihat adeknya seperti itu, belai-belain mencari ‘obat kucing’ ke pasar. Sayangnya, Rara menemui ajalnya hari itu. Atas permintaanku, abangpun menguburkan rara di depan rumah, di samping pohon jambu.. hiks

Hmmm…
begitu banyak cerita tentang abang yang saya susun rapi dalam folder di hippocampus. Saya merindukan abang yang sekarang harus memberikan porsi kasih sayang lebih besar ke kepada keluarga kecilnya. Saya tidak cemburu, karena memang cepat atau lambat abang memang akan berkeluarga. Tapi abang tetaplah abang satu-satunya di dunia. Abang yang sering membuat saya cemas saat dia pulang larut malam karena bertanding sepakbola. Abang yang sering memboncengku berangkat sekolah saat SMA. Abang yang  sering membuatku menangis saat dijahili. Abang yang sering saya pandang wajahnya saat  tidur dan berbisik sendiri betapa bersyukurnya saya menjadi adiknya.

#Abaaaaang… kangen sangat.

2 thoughts on “Hippocampus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s