SchizoprenLikeDisease

What s ur agenda for next six months??

Haa… bagi mahasiswa program profesi, enam bulan ke depan adalah saat-saat yang paling ditunggu. Tanya kenapa? Pertama, secara akademik, dari januari hingga juni tahun depan, kami diberi kesempatan untuk mengaplikasikan ilmu yang telah kami peroleh dari tingkat sarjana dan profesi. Ilmu yang telah lama terakumulasi tanpa diekskresikan jadi wajar saja kalau ada mahasiswa program profesi yang tiba-tiba kejang karena gejala keracunan ilmu –> overdosis ilmu.

Jadi, kembali ke cerita awal, deretan enam bulan pada awal tahun depan *ribetbangetkalimatnya. Ok, jadi, enam bulan ke depan, atau disingkat dengan PKPA (Praktik Kerja Profesi Apoteker), kami para apoteker muda akan mengimplementasikan materi dari mata kuliah yang kami dapatkan, baik dalam bentuk tunggal maupun kombinasi, di dua tempat praktik profesi dan satu tempat kerja. Kedua, walaupun indikasi utamanya adalah untuk belajar dan mempraktikkan ilmu, tetap saja ada efek sampingnya. Dan efek samping yang paling tidak bisa dicegah dan sulit diatasi adalah ‘jalanjalan’.

Sebelum memasuki fase PKPA, kami harus melewati fase ‘galau’, yaitu masa menanti pengumuman penempatan lokasi PKPA. Fase ini biasanya dicirikan dengan munculnya gejala ansietas yang berlebihan, aritmia, tachicardia, insomnia, dan spasmus abdominal. Bahkan ada juga beberapa gejala yang langka seperti munculnya delusi dan halusinasi yang berlebihan… *wuaaa… apa pulak ini.

Karena saya juga salah satu mahasiswa yang akan mengikuti PKPA dan saya adalah manusia (#ya iyalaaah) maka saya juga punya harapan tersendiri. Kalau bisa me-request dan jika bapak saya adalah dekan (#syukurlah tidak..), saya akan meminta ditempatkan di lokasi berikut. Untuk apotek, saya memilih apotek s*wahan. Alasannya, pertama, APA di apotek ini adalah pembimbing penelitian saya, jadi yaaa udah akrab gitu *dasar… mental nepotisme. Kedua, lokasi apotek ini cukup strategis, saya cuma perlu naik bus kota 1 kali untuk pergi dan pulang.

Pada praktik rumah sakit, saya memilih RSSN (Rumah Sakit Stroke Nasional) di bukittinggi. Alasannya, pertama, saya memiliki ketertarikan khusus mengenai CVA (cerebrovascular accident). Kedua, lagilagi pembimbing di RS ini adalah pembimbing saya. Ketiga, efek samping menguntungkan jika dapat di RSSN adalah ‘jalanjalan’. Terakhir, untuk industri farmasi, saya memilih kimia farma Bandung. Alasannya, pertama, biar bisa dapat banyak pengalaman dan melihat hal baru, secara… di KF gituuu… Kedua, lagilagi masalah efek samping –> Jalanjalan. Di bandung banyak tempat wisata ataupun arena bermain yang belum saya kunjungi saat ke tempat ini beberapa waktu yang lalu. Selain itu, obsesi untuk wisata kuliner juga jadi alasan kuat.

Dan..setelah fase galau terlewati.

Tidak semua yang saya inginkan bisa saya peroleh. Hanya satu dari tiga pilihan yang sesuai. Alhamdulillah, berkat seseorang, saya ditempatkan di kimia farma Bandung (*ye ye ye… jalan jalan…). Untuk apotik, karena harus menyesuaikan dengan jadwal saya di KF, saya terdampar di apotek Ib*nda. Naah, untuk menuju apotek ini, saya harus naik angkot dan setelah itu jalan kaki. Yang saya takutkan, kalau dapat shift malam, jalan sendiri… o.. tidaaak.

Menariknya, untuk rumah sakit, saya malah terjebak di rumah sakit untuk orang-orang yang luar biasa. Selama Januari hingga awal maret, saya akan berada di markas pasien luar biasa ini –> Rumah sakit jiwa. Beberapa teman di kelas sempat bertanya,
“Via, via request ya biar dapat PKPA di RSJ?? padahal kakak request dapat disitu lho, tapi kok malah via yang dapat?”.
”Ga kak… via ga request apa-apa. Via sih terserah mau dapat dimana saja.”. (asal ga dapat di RSJ *teriakteriakdalamhati).

Tapi serius lho, aneh banget. Yang dapat RSJ di kelas kami cuma 3 orang. yang pertama, memang dia nya yang pengen di RSJ. Eh… tiket dua lagi malah jatuh ke tangan saya dan teman saya. Saya bukannya takut berinteraksi dengan pasien seperti itu, yang saya cemaskan malah terlalu sering berinteraksi dan terlalu dalamnya empati terhadap pasien *ajiaaah….. malah akan membuat saya beradaptasi dan akhirnya malah saya yang meracauracau di jalan –> schizoprenlikedisease.
Namun, setelah saya inapinapkan, saya dengan ikhlas dan menerima dengan sukacita bahwa saya ditempatkan untuk praktik di RSJ. Bukankah Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan?? Dan tentu saja itu benar. Buktinya, sekitar 4 bulan yang lalu, saat saya ke toko buku, saya tertarik dengan buku farmasi ‘farmakoterapi penyakit sistem saraf’. Karena dasarnya saya memang hobi koleksi buku dan hobi membaca buku fiksi, maka buku yang saya beli 4 bulan lalu itu sampai sekarang masih tersegel rapi, belum dibuka, hanya sedikit berdebu karena dipajang di lemari. Naahh… Karena terdampar di RSJ, tentu saja buku ini sangat bermanfaat.
Hmmm… betapa indahnya Tuhan menghubungkan dan mengatur jalan hidup hambaNya, termasuk lokasi PKPA….

Bahkan, Kejadian tadi siang juga memperkuat statement bahwa saya memang ditakdirkan untuk PKPA disana.
Begini, tadi siang saya melakukan perjalanan ke prodia –> RS Yos Sudarso –> RS BMC. Ba’da ashar, saya dan teman saya mulai merasa lambung kami meronta minta diisi. Maka kami memutuskan untuk memenuhi permintaan lambung kami. Saat kami hendak menuju salah satu kafe di jalan itu, kami mendapati sosok berambut pirang dan rasanya wajah orang itu tidak asing…. Si pirang mulai berjalan ke arah kami, Kami mengerem langkah dan pelan-pelan mulai mundur…..hayuuu tebak, siapa?
BULE….. ahhhh.. bukan bule. Kalau bule, saya malah mencoba cari kesempatan buat ngomong. Tapi sosok pirang itu adalah calon pasien yang akan saya tangani bulan depan. Saya ingat mengapa wajahnya cukup familiar karena saya dan teman saya sempat hampir dikejar si pirang ituuuuu beberapa waktu yang lalu. Bayangkan, belum PKPA di RSJ saja, sudah bisa meng-attract pasien. Hhhh… memang sudah ditakdirkan.

Awalnya saya memang agak kece*a ditempatkan di RSJ, tapi saya  adalah tipe makhluk yang memandang separuh isi gelas adalah penuh. Akan ada banyak ilmu, pengalaman dan cerita yang saya alami disana, yang tak dirasakan oleh yang lain. Saya tidak hanya mencoba menangani pasien ‘biasa’ tapi juga menangani bahkan menyayangi pasien yang ‘tidak biasa’. Saya bisa melihat dan mempelajari kehidupan dari sudut pandang berbeda, merasakan dunia dari dimensi yang tak sama. Saya yakin ada banyak hal luar biasa yang akan saya alami disana. Karena hal luar biasa hanya terjadi pada orang-orang yang luar biasa. Mungkin ini pertanda bahwa saya memiliki takdir yang istimewa. Sesuatu yang lebih besar dari yang bisa kubayangkan. I hope and I believe.

4 thoughts on “SchizoprenLikeDisease

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s