YM, ujian, dan tugas

Sebenarnya malam ini saya harus menyelesaikan tugas yang harus dikumpul besok. Karena tidak kunjung saya lirik juga, tumpukan kertas (red: bahan tugas) mulai terlihat resah dan mulai merayu-rayu minta dituntaskan. Yaaa… apa boleh buat, saya terpaksa memenuhi ajakan tumpukan kertas-kertas kusut itu. Baru mulai menggaris-garis dengan pulpen berwarna merah (kayak tugas menggambar gituu), ada salah satu junior di kampus menyapa lewat YM…

ss: “berikan alasan kepada saia kenapa saia harus mempelajari 384 slide
fya: “lagi ujian ya deeek?”
ss: “Iyaaa kakaaa, bahannya nauzubillah”
fya: “wuaaa… bisa kejang2 tu garagara overdosis. Biar ga OD, yang dah dimasukkan langsung diekskresikanSmile with tongue out
ss: “yaaaa… kakaaak… kalo gitu gmn mau ujian besok..” Sad smile
fya: “Ujian apa?”

*disensor

fya: “ow ujian itu… biasanya textbook… jadi kudu ditransfer tu slide mua2 ke kepala. Jangan dihafal di luar kepala. *nah lho…”
ss: “klo dimasukin smua kasian ni kepala kakaaak”

… … …

Terkait dengan masalah ujian, dan kebetulan pekan ini adalah pekan ujian akhir semester bagi adek2 S1 dan exam month bagi saya dan teman2 program profesi apoteker –> saya mengakui dan sangat setuju jika ujian dijadikan sebagai standar kelulusan bagi mahasiswa. Pertanyaannya, ujian yang seperti apa? Apakah ujian yang pertanyaannya persis sama dari tahun ke tahun? *dosennya ga update banget…. atau ujian dimana posisi duduk sangat mempengaruhi nilai? Atau malah ujian yang jawabannya ‘wajib’ persis sama dengan buku dan slide?. Tetapi kenyataannya, ujian seperti inilah yang banyak saya temui dari saat saya masih sangat lugu sebagai mahasiswa baru hingga saat saya menulis tulisan ini (baca: sudah tidak lugu lagi).

Kasus seperti yang dialami junior saya adalah secuil kecil dari kasus mahasiswa yang menghadapi ujian, termasuk saya. Saya akui saya sangat suka ujian… opps, tunggu dulu, saya bukannya sombong tapi memang seperti itulah yang saya rasakan *hati ga pernah bohong… Saya menyukai ujian terlepas apakah saya siap atau tidak, apakah kertas jawaban saya terisi penuh atau cuma separo, apakah saya menjawab dengan benar atau tidak. Karena bagi saya ujian bukan hanya untuk memperoleh deretan nilai A di ijazah (kalau dapat, syukurlah) melainkan parameter untuk menilai keberhasilan saya dalam menerima dan mencerna informasi yang disampaikan dosen serta kalau bisa memanfaatkannya. Saya pernah mengumpulkan lembar jawaban ujian dengan separo isinya kosong. Yaaa… hanya itu yang bisa saya jawab dengan kemampuan dan usaha terbaik yang telah saya lakukan. Hasilnya, saya hanya bisa mendapat nilai 61 dan tentu saja saya sangat mensyukurinya karena itu merupakan buah perjuangan saya.

Kembali ke persoalan junior saya tadi. Bahan ujian yang luar biasa menumpuk dan tipe soal yang ‘text book’ banget memang bisa berefek ‘depresi’ pada sebagian orang, tidak termasuk saya.🙂. Menurut saya, konsep ujian yang jawabannya seperti ‘fotokopi’ catatan atau bahan kuliah tidak bisa menjamin keberhasilan seorang mahasiswa dalam mencerna ilmu yang diberikan. Malah ‘penyakit kronis’, seperti mencontek dan segala bentuk tindak kecurangan dalam ujian semakin mewabah. Mahasiswa semakin terlatih untuk berpikir kreatif untuk mencari celah untuk melancarkan ‘tindak kriminal akademik’ yang seharusnya tidak layak dilakukan oleh orang yang menyebut dirinya mahasiswa.

Saya terkadang suka mengamati kebiasaan dan tingkah teman2 saat ujian. Ada 2 hal yang paling kentara dan kontras dibandingkah hari kuliah biasanya. Pertama, saat kuliah biasanya mahasiswa hadir paling cepat 5 menit sebelum jadwal perkuliahan, sebagian sedikit terlambat dan ada beberapa mahasiswa yang selalu terlambat. Tetapi saat ujian, 30 menit sebelum jadwal ujian, mahasiswa telah duduk manis di kursi pilihan masing2. Kedua, saat ujian, bisa dijamin tidak kurang 50% kursi paling depan selalu kosong dan bagian yang paling cepat penuh tentu saja kursi bagian belakang. Kalau ditanya mengapa tidak memilih kursi didepan, jawabannya sangat diplomatis “Posisi menentukan prestasi, jadi pilih posisimu”…

Problema ujian juga terkadang muncul bukan dari mahasiswa tapi dari dosen *opps… peace pak, ibu… Begini, sekarang manusia memasuki era modernisasi dimana semua sisi kehidupan berkembang sangat pesat, tak terkecuali bidang kedokteran dan farmasi. Kondisi seperti ini seharusnya juga diikuti dengan kemajuan dan update informasi yang diberikan di kampus termasuk bahan uji yang akan diberikan kepada mahasiswa. Tetapi tidak jarang ditemui pertanyaan yang muncul persis sama dari tahun ke tahun bahkan dekade. Saya tidak tahu mengapa atau mungkin dosen punya alasan tersendiri dengan soal turunan seperti itu. Yang jelas, dengan konsep demikian, inisiatif mahasiswa untuk belajar dan mencari informasi ter-update perlahan-lahan terkubur karena fokus menghafal jawaban dati soal turunan itu tanpa memahami esensi ujian itu sendiri. Saya mengakui karena saya salah satu korban yang hampir kehilangan arti ‘inisiatif’ dan ‘kreatif’ dan ‘kompetitif’. Tetapi, seharusnya mahasiswa juga punya keinginan untuk mendapatkan ilmu ter-update. *saya akui ini kekurangan saya

Ahhhh… saya jadi bercerita panjang tentang ujian garagara YMa-an sama adek satu ini Smile

*kasihan..tugas saya tak diacuhkan lagi

8 thoughts on “YM, ujian, dan tugas

  1. hahahah… banget-banget deh kakak, smpe dimasukin ke blog
    btw, tengkyu masukannya kakak.. emang nih, kreativitas terkekang untuk mengarang indah di lembar jawaban karena tuntutan untuk mengikuti bahasa slide yg ad

    cerita soal bahan yg bejibun itu, tadi ujiannya rada2 (RAgu saDAnyo…alias ragu sadonyo) ahahah, yaeyalah bahan sebanyak itu, gak fokus, bahan ujian udah keq skripsi..heheh

    acuhin atuh tugas2 nya kakak, kasian… ;p

  2. wah…setuja! eh setuju!😀

    kalau buat ilmu2 dasar sih nggak apa2 soalnya turunan, apalagi kalau perkembangan ilmunya nggak begitu pesat kayak kimia organik misalnya.hehe.. udah turunan aja belum tentu nilainya bagus😀

    tapi kalau ilmu yang aplikatif, nggak ada salahnya kalau jawaban soalnya nggak persis dengan buku teks, misalnya pertanyaannya “apa yang Anda ketahui dengan….” atau “bagaimana pendapat Anda terhadap…” atau “apa solusi yang akan Anda berikan bila masalah …. terjadi”

    kelebihannya, mahasiswa bisa lebih kreatif tanpa menghilangkan esensi memahami suatu ilmu. Toh di lapangan yang penting kan ilmunya, bukan bahasa penyampaiannya, apakah sesuai dengan buku teks atau nggak

    tapi kendalanya ya pas memeriksanya, ya iyalah, pendapat orang kan beda2

    ehm, I love exam too🙂

    1. sepakat…sepakat.. *jd ingat rapat bbmk
      iyaa mi… mendingan soal ujiannya ttg update ilmu terbaru, jd mhsw mw ga mw hrus update info (bukannya update status di fb *peace :P).

      hurraay… dapet teman “exam lover” juga…:mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s