Begitulah dia mencintaiku

Selamat hari ibu ya mak…

“Tak tahu harus berkata, puisi pun tak sanggup kurangkai untuk menunjukkan betapa rindu aku padamu, mak. Yaa… apalah arti puisi sotoy ku dibanding kasih tak terperi yang dengan tulus engkau berikan padaku. Sudah lama aku tidak mengirim surat padamu, mak. Padahal aku tak disisimu. Aku ingat, surat pertama dan terakhir ku adalah saat aku baru pandai menulis. Masih ku ingat engkau tertawa membaca surat putrimu yang mungkin bisa dibilang hampir tak bisa dibaca. Tapi engkau begitu bahagia saat itu karena putri kecilmu sudah bisa menulis. Itulah surat terakhir ku untukmu”.

Hari ini aku tidak mau hanya me-sms atau meneleponmu. Lagipula, jika meneleponmu dan mendengar suaramu, aku takut keinginan untuk segera bersua denganmu semakin membuncah. Jadi, sepucuk surat ini kutulis untukmu, mak.

Padang, 22 Desember 2011

Kamar no 4, Kosan Istana Ilalang

09.23 Waktu laptop

Assalamualaykum wr wb

Mak…

Apa kabarmu mak?

Mak, maaf aku tak bisa pulang kampung dalam waktu dekat. Bukannya aku tak merindukanmu, mak. Aku sangat merindukanmu, dan karena begitu menyayangimu aku merelakan waktu untuk tidak di dekatmu, aku harus mengejar mimpiku untuk dihadiahkan kepadamu. Engkau tidak marah kan, mak?

Mak…

Aku bisa mengingat semua momenku bersamamu. Tetapi engkau ingat setiap detil saat engkau membesarkanku bahkan dari engkau mengandungku.

Engkau sering bercerita tentang kebiasaan anehmu saat mengandungku
hingga akhirnya engkau melahirkan seorang putri sepertiku.
kau sangat rewel saat masih bayi”, katamu tersenyum padaku

Maaf mak, jika aku belum bisa menjadi putri yan baik.

Mak, aku tahu engkau sangat menyayangiku hingga engkau tak membiarkanku jauh dari sisimu.
Aku masih bisa mengingat saat kepalaku sakit luar biasa dan membangunkanmu dari tidurmu, engkau menangis melihatku seperti itu.
Sejak saat itu engkau dan abak tidak membiarkanku begitu jauh dari kalian.

Dan sekarang, putri kecilmu telah menjadi seorang mahasiswa.
Masih segar dalam ingatanku, saat aku merengek kepadamu. Aku memohon agar engkau mengizinkanku untuk pergi jauh sebentar saja, mak. Untuk penelitianku, untuk masa depanku, untuk kado yang ingin kuhadiahkan kepadamu dan abak. Tapi karena bagimu, aku tetaplah putri kecilmu yang rapuh, engkau hanya ingin aku tetap di dekatmu. Aku tidak kecewa, tidak marah, dan tidak mengeluh, mak. Aku bersyukur karena memiliki dirimu yang begitu mencintaiku, karena begitulah engkau mencintaiku.

Mak, aku merindukanmu. Rindu saat engkau dan abak menyambutku pulang kampung walau harus bangun dini hari. Aku rindu masakanmu, rindu tatapanmu, rindu saat tidur bersamamu. Bahkan aku tidak sabar menceritakan tentang kuliahku, teman-temanku, dan jadwal PKPA ku.

Yang benar-benar menyayangi kita, tidak akan benar-benar meninggalkan kita. Dia selalu ada disini… di hati

Wassalam

Putri kecilmu, selamanya

NB: mak, putrimu ujian hari ini. Doakan putrimu dan teman-teman y mak Smile

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s