Cousickness

Pertama, aku kehilangan nafsu menulis selama beberapa bulan terakhir. Alih alih menulis, menontonpun jarang kulakukan. Yah, bisa diduga ini merupakan efek dari kelelahan PKPA yang disambut dengan setumpuk laporan dan persiapan ujian. Belum hilang euforia setelah ujian yang dijamu lagi oleh persiapan wisuda dan pengambilan sumpah dengan segala atribut persyaratannya yang cukup menguras tenaga, waktu, perasaan, dan ‘dompet’ (tentu saja). Masih dengan kegalauan kekurangan dana pasca ‘khatam’ kuliah, wabah ‘pengangguran’ malah menjangkiti. Ya, wabah ini biasanya dicirikan dengan sibuk di depan laptop untuk browsing loker, memandang penuh harap ke telepon seluler agar ada perusahaan yang tertarik dan mengundangnya via telepon, dan mulai menghemat pengeluaran karena segan ‘meminta’ dana pensiun anak kuliahan ke orangtua. Bukan, aku bukan ingin menyalahkan keadaan, karena aku lah yang salah yang tidak bisa me-merge dan men-split-kan waktu untuk merawat ordinary blog ini. Tapi.. sebenarnya bukan ini yang ingin aku ceritakan, teman. Ah, aku memang selalu bermasalah dalam merangkai pembukaan tulisanku. huks..

Sebenarnya sekarang aku ingin bercerita tentang sepupuku, anak dari adik perempuan ibuku. Orangtuaku memang sangat menyukai anak-anak, yah efek dari belum punya cucu (dulunya, tapi sekarang alhamdulillah sudah resmi menjadi kakek nenek). Yah, sebelum abangku menikah, orangtuaku punya hobi unik yaitu gemar ‘mengadopsi’ anak-anak secara tidak resmi. Maksudnya, beliaubeliau ini memperlakukan sepupu dekatku, sepupu jauhku, anak tetangga, ataupun anak orang di kampung ku sebagaimana mereka memperlakukan anaknya. Biasalaah, sindrom orangtua yang hanya punya dua orang anak yang sudah terlanjur beranjak remaja.. *kok jadi cerita tentang orang tua??,,,

Dan bla..bla..la la la, sepupuku ini (yang mau aku ceritakan) merupakan salah satu ‘korban’ hobi orangtuaku ini. Sebutlah namanya Ajril (memang itu sih nama aslinya). Atau lebih lengkapnya, Muhammad Ajril Mually. Tapi aku lebih sering memanggilnya dengan sebutan ‘Ying’. Bukan salahku kalau aku memanggil dia dengan sebutan itu. Dia lah yang mendeklarasikan Ying sebagai namanya, ya karena saat itu dibelum cakap berucap.. Smile

Selang beberapa bulan, Ying mulai beranjak besar, tertawa, bisa duduk, merangkak, berdiri, berjalan, dan berlari. Namun, perubahan yang paling drastis tentu saja ukuran tubuhnya (yaiyalaah viaaa). Bukan, bukan, maksudku ukuran tubuhnya bertambah tidak mengikuti deret hitung tapi malah melaju seperti deret ukur. Bayangkan, saat tercatat sebagai siswa kelas 3 SD, berat badannya malah melesat melampaui berat badanku..wew. Bagaimana tidak?? bakat makan yang luar biasa itu telah nampak sejak dia berusia sekitar 1 tahun hingga sekarang. Kalau berhadapan dengan orang yang sedang makan, lambungnya kembali meronta minta diisi walaupun setengah jam sebelumya baru saja melahap dua piring nasi. Bahkan, hanya dengan mendengar perbincangan tentang makanan, hasrat makannya kembali terpacu. Kadang aku sering bingung seberapa cepat sih pengosongan lambung anak yang satu ini. Kok sampai segitu terobsesinya terhadap makanan.

Sepupuku ini juga punya indera penciuman yang luarbiasa tajam (tapi untuk urusan makanan saja). Karena pernah juga saat dia berada di rumahku (memang dia lebih sering main di rumahku, apalagi kalau aku sedang di rumah), yah situasinya aku sedang ‘ngidam’ makan mie rebus dan aku tahu bahwa baru saja si gendut menghabiskan sepiring nasi penuh dengan dua kali ‘tambuah’. Bukannya aku pelit, tapi karena aku tidak mau melihatnya tersiksa. Tersiksa karena pengen makan mie, tapi tidak ada bagian perut yang kosong lagi, namun karena sangat ingin, ya jadinya dipaksakan juga, dan akhirnya jadilah perutnya membuncit, tidak bisa berdiri, tidak bisa bersendawa, serasa mau muntah, dan ngantuk tapi tidurpun tak tenang. Maka, jadilah, saat itu aku mengunci pintu dapur dengan harapan dia yang berada di kamarku lantai 2 tidak bisa mencium aroma mie rebus ini. Alhasil, usahaku gagal, dia mulai mengetuk pintu dapur dan saat kubuka dia wajahnya mulai sumringah-senyum2 tidak jelas, seperti kucing menemukan ikan asin dalam kantong plastik. Dan, akhirnya sudah bisa ditebak—>si gendut tidak bisa tidur tenang.

Dengan tubuh yang seperti itu, tidur bersamanya pun juga mulai tak nyenyak dan luar biasa terganggu. Suara ngoroknya benar2 membuat mata enggan terpejam, kalaupun berhasil terlelap, maka suara itulah yang nantinya akan menginduksi munculnya mimpi buruk..hahaaa.
belum lagi tubuhnya yang tidak mungil lagi seperti dulu, yang bisa aku jadikan bantal guling untuk dipeluk. Sekarang tubuhnya bak karung beras, tangannya seperti bongkahan kayu. dan Masya Allah, kalau berhasil menimpa punggungku, sakitnya ‘tidak’ biasa. Kalau dulu, aku yang menjadikanya bantal guling, tapi sekarang malah sebaliknya. Aku benarbenar ditindas oleh sepupukua yang satu ini..huks

Image4261

Tapi, dia tetap adik sepupu kesayanganku. Yang sering mengesalkan karena sering berebut hp, bertengkar karena channel TV, rewel minta dimasakin ini itu, ngiler kalau lihat iklan makanan di TV, malas kalo dimintain tolong *kecuali diancam dengan ‘makanan’.. Hhh, tidak terasa sekarang dia sudah besar. Tahun depan dia akan berusia 12 tahun dan akan menamatkan pendidikan SD. Namun dia tetap adikku, yang menjadi pelanggan setia ‘masakan eksperimen’ ku. Yang kadang menurutku tidak enak, tapi menurutnya tetap luar biasa enak.. Aku rindu mencubit pipinya yang buncit. Ya sangat rindu.

Hfft.. tulisan malam minggu ku untuk si gendut…

MY COUSIN

6 thoughts on “Cousickness

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s