Work-learn-couple

Depok, day-19

Bekerja tidak semudah yang selama ini saya bayangkan. Atau mungkin saya lah yang terlalu naif menganggap bekerja hanyalah seputar pergi-kerja-pulang dan di rumah saya masih bisa ‘bermain’ dengan dunia yang saya ciptakan sendiri. Ternyata, saya sedikit salah dalam mendefinisikan kata ‘bekerja’..

Empat hari yang lalu, saya mencetak sejarah dalam perkamen kehidupan saya sendiri..*tsah.. Saya mendeklarasikan bahwa status saya telah berubah dari fresh pengangguran menjadi regulatory affair di salah satu perusahaan farmasi. Yah, seperti defenisi ‘bekerja’ yang berlaku bagi saya, saya hanya memandang ‘bekerja’ terlalu sempit, terbatas pada ritme dan rutinitas. Itupun saya belum memperhitungkan secara teliti apakah saya memiliki kapasitas sebagai seorang regulatory affair.

Selama menjalani pendidikan apoteker, saya tidak memperoleh materi khusus, yang membahas secara detail tentang regulatory/registrasi. Tetapi, saya mendapatkan sedikit bekal tentang ilmu ini saat menjalani praktik kerja profesi di salah satu perusahaan farmasi di Bandung. Ya, setidaknya, saya mengetahui pengetahuan dasar regulatory seperti ACTD. Dan, dengan sedikit pengetahuan inilah saya berhasil melewati proses interview dan yaa… disinilah saya berdiri sekarang.

Well, kembali ke ‘bekerja’ menurut defenisi saya. Saya mengira, seorang regulatory affair hanya bertanggung jawab menyiapkan dokumen-dokumen untuk keperluan registrasi produk di dalam negeri ataupun untuk ekspor ke negara lain. hee. Kalau dipikir-pikir tidak terlalu sulit lah yaaa jika hanya menyiapkan dokumen. Tinggal minta dokumen yang diperlukan – print – susun- serahkan – bereees. Namun, semuanya meleset jauh dari dugaan. Dokumen yang diperlukan ternyata tidak available semudah itu,perlu review beberapa kali sampai akhirnya di-approve. Belum lagi jika terjadi perubahan spesifikasi, kompendia, metode analisa, dan aturan lainnya bahkan untuk keperluan ekspor semua dokumen berbahasa Indonesia harus di-translate menjadi English. Maka, jadilah saya sebagai translator dadakan.

Bekerja ternyata tidak hanya tentang bagaimana ritme aktivitas harus konstan, tapi bagaimana melalui proses ritme itu sendiri yang terkadang dipercepat. Bekerja bukanlah fase kehidupan dimana seseorang telah menyelesaikan pendidikan dan hanya perlu mengaplikasikannya. Tidak, bekerja tidak berarti berhenti belajar, malah sebaliknya. Inilah fase pembelajaran yang sebenarnya.

*ditulis sementara saya berkutat dengan bahan translate, CoA, TM, Spec, Data stabilitas dan a bucket of movies (maaf, saya benar2 tidak bisa meninggalkan dunia ‘bermain’ saya)

sumber gambar: facebook.com

4 thoughts on “Work-learn-couple

  1. That’s life, works not only enables you to look for a place to dedicate the science, but also to find out who you are. there is no better method of learning in the world than the experience, the experience will teach you many things that you never thought before, even your imagination.

    congratulations and encouragement to work!
    Working for a better Indonesia^^

    1. haaa… absolutely right udaa. you know me so well, even my imagination..ke ke ke

      ya, for now I have not decide that i ll continue my job, I still wanna try to have job in another site of pharmacy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s