Si Sushi

A few days ago… The most suffering lunch happened in my life
*cut…… kamyu mulay lebay lage fyaa..

Tapi ini serius, teman.. Itu untuk pertama kalinya saya merasa makan siang adalah momen yang paling menyiksa.
Jadi begini… Kita mulai dai mana ya??
OK, Jadi, Jumat minggu lalu, tepatnya 28 Desember 2012 adalah hari terakhir saya bekerja di salah satu Industri farmasi di Jakarta Selatan. Ya, saya memutuskan untuk tidak melanjutkan kontrak kerja karena pertimbangan tertentu. Maka jadilah hari itu menjadi detik-detik terakhir saya berkutat di depan komputer, membahas segala tetek bengek tentang registrasi.

Saya dan atasan saya (saya memanggilnya, Mba Des) berencana mengadakan farewell party Party smile di kantin perusahaan saja, selain hemat ya dekat juga. Tapi, rencana kami buyar  ketika Mba Des menerima message dari ‘yang lebih atasan lagi’
”Hari ini kita lunch bareng divisi untuk akhir tahun. Sekalian farewell party.. Ajak si via yaa”.

Maka pukul 11.15 kami sudah bersiap merapikan meja kerja, mengisi form keluar pada jam kerja, melapor ke security dan segera meluncur ke lokasi. Dan teman, berhubung saya berada di Jakarta, wabah macet tentu saja tidak bisa dihindari. Padahal perut saya sudah meronta minta diisi karena tadi pagi cuma disempal dengan kue cucur dan kue pukis yang saya beli di dekat rumah. Maka jadilah kami sampai di lokasi pukul 13.00.

Jujur, saya sangat senang mendapat kesempatan makan siang ini, tentu saja karena gratis…Open-mouthed smile heee #maaf, maklum masih anak kos.. Bagi anak kos, mendapat traktiran makan sama halnya seperti mendapat batangan emas dalam bungkusan kuaci… Tapi, kebahagiaan saya perlahan menguap saat memasuki lokasi makan siang yang berada di kawasan Pondok Indah. Yup, ternyata lokasi makan siang yang dipilih ‘atasan dari atasan saya’ adalah restoran sushi… SUSHI… S…U…S…H…I…
Bulu kuduk saya langsung berdiri, pertama karena saya tidak terbiasa makan di restoran yang bisa disebut mewah seperti ini. Jangankan makan, masuk saja belum pernah… *huh..fyakatrok..
Kedua, karena pengalaman tragis salah satu senior saya di restoran sejenis. Ya, beliau awalnya coba-coba sih, bagaimana sih rasa sushi itu, kok fans makanan jepang ini banyak bener. Namun, rasa penasaran beliau berakhir naas. Tidak perlu lha saya teruskan ceritanya.

Ternyata satu ruangan telah di-booking untuk acara siang ini, hidangan pun sudah ditata di meja. Sekitar belasan piring sushi dengan berbagai rasa, salmon mentah, salad, dan entah apalagi, saya sendiri tidak tau namanya. Kami cuma perlu memesan minuman masing-masing. Sebenarnya, saya ingin memesan menu lain, tapi yang namanya restoran SUSHI, ya menunya sushi semua. Ampuuun.
And let the feast began……

Sebenarnya saya tidak terbiasa makan menggunakan sumpit, tapi inilah satu-satunya alat bantu yang disediakan. Huks. Saya mencoba mengambil salah satu sushi yang berada di paling dekat, celupcelup ke ‘kuah’, dan ammmm… %$#)()%$#$…. Saya tidak bisa membayangkan seperti apa tampang saya saat itu. Mau dikeluarkan, ah tidak mungkin, karena saya malah akan merusak mood makan siang semua orang. Akhirnya, saya paksakan menelannya sambil memenjamkan mata.

Saya memutuskan untuk tidak mengambil sushi lagi, lebih baik saya lapar dari pada isi lambung saya tumpah di depan umum. Itulah yang saya deklarasikan dalam hati selama beberapa saat. Namun telat, Mba Des dengan wajah sumringah telah meletakkan satu sushi yang katanya berisi salmon mentah. Saya mengumpulkan tenaga untuk memasukkannya ke mulut, dengan harapan semoga yang ini bisa diterima oleh perut saya. Dan…… kreeeek…%#!@#()((((%#(*&*F$%%… Saya bisa merasakan muka saya memerah, panas. Saya segera mengambil tisu dan menutup mulut, menahan, saya mengambil ocha hangat yang saya pesan, meminumnya dan menelan sushi itu tanpa dikunyah. Saya benar-benar memutuskan untuk cukup, cukup. Saya memilih memakan kacang rebus saja. Toh jauh lebih enak. Walaupun tidak membuat kenyang… Sad smile

Melihat sushi yang masih terhidang di meja, membuat saya iba akan perut saya. Perut yang sudah bersabar dari pukul 11 tapi setelah mendapat kesempatan diisi, malah diisi dengan makanan negeri sakura yang TIDAK BISA diindera ‘keenakannya’ oleh lidah saya. Teman, saya jadi merindukan sebungkus nasi padang saat itu. Dan yang membuat saya semakin ‘tidak enak’, setelah bill nya diserahkan, ternyata oh ternyata, aarghhhh……………
Kami dikenakan 3.3 jeti, ampyuuun… hanya untuk makan ini… dan saya sama sekali tidak puas… tapi sepertinya yang lain sangat puas… Setidaknya kalimat terakhir yang membesarkan hati saya. Ya, setidaknya yang lain terlihat puas, toh bukan saya juga yang bayar. hee.

Setelah foto-foto, saya dan Mba Des memutuskan langsung kembali ke kantor. Sesampainya di kantor, saya langsung menyambar Oreo yang saya bawa. Setidaknya bisa mengganjal kekosongan sebelum pulang. Tapi, tiba-tiba Mba Des masuk ke ruangan saya…
via, via ntar rencananya langsung pulang ya?”
”iya Mba”
”ow”
, Mba Desy, kembali ke ruangannya.

Tapi tidak sampai semenit, Mba Des masuk lagi
via, via tadi makannya kenyang ga? ntar kita makan pas pulang. Mba ga kenyang coz ga suka makan sushi
Eh, Mba juga ga suka?” Aku setengah berteriak.

Hah, ternyata si Mba, bela-belain letakin si sushi di piring saya, ternyata beliau juga ga menikmati. Pantesan pas makan siang dia malah main-mainin si sushi. Kami memutuskan untuk makan di depok dan yang terpenting, makan NASI.

Memang benar teman, perut ga bisa dibohongi.

That’s all, The end

7 thoughts on “Si Sushi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s