Soresore

Aku bersila di atas lantai, berkerikil
direkatkan oleh isi perut bumi
angin siang menjelang sore menerpa wajahku
meniup kerudung yang menutup kepalaku
hingga melambai, tertahan

Saat ini, aku duduk bersandar
pada dinding berbatu,
tepatnya pecahan batu
yang ditopang oleh tiang senada
di depan ku terhampar kontras warna
rerumputan dengan larik hijau pucat dan ungu
ungu merona
Semerona pipiku yang bercanda dengan angin

Pandanganku beranjak, terus ke depan
ke arah dataran yang mulai menanjak
curam
ditumbuhi spesies berdaun payung
hingga dari kejauhan terlihat seperti padang cendawan
hijau menawan
diselingi tiga hingga lima rerumputan
dengan pita berkelindan
melambai, tertahan
merunduk sembah kepada Tuhan

Terlihat kupu-kupu putih
bersih, sangat bersih
sibuk bermain tanpa letih
senandung burung nun di sana
mungkin burung gereja
ah, aku tidak ingat burung gereja bisa bersenandung
cara meloncat merekalah yang jelas terekam
dan yang pasti
senandung mereka menyihir sore ini
semakin indah tak terperi

Aku masih bersila  di lantai berkerikil
bersandar di dinding berbatu
mengagumi kesempurnaan yang mengalir
pada ciptaan Tuhan Yang Maha Satu

_once upon an afternoon at the corner of a famous campus_

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s