???

Apa yang kau akan lakukan jika kau baru menyadari bahwa kau melukai satu, dua atau lebih orang?
Apa langkahmu bila kebenaran yang selama ini kau tunggu malah datang terlambat? Sama terlambatnya seperti jejak yang senantiasa mengekor langkah.
Bagaimana perasaanmu jika ternyata kebenaran itu berpihak padamu? Kebenaran yang memantik terkaan polos, sengaja berpihak pada diri, dengan menghubungkan hal-hal absurd menjadi puisi.
Ah, aku memang terlalu naif, dulu. Dulu sekali
Membangun mimpi dari gumpalan atensi dan peduli. Lalu perlahan menguap setelah memaknai arti atensi, yang baginya adalah cerminan pribadi diri. Tidak istimewa, biasa saja, karena ditebar rata kepada sesama saudara.

Dan sekarang, aku bangun dari mimpi itu, mencoba menghidupkan mimpi.
Sekarang mimpiku tidak senaif dulu, pikiranku tidak se-absurd dulu
memetakan hidup bersama langkah yang baru.

Dan, teman, izinkan aku bertanya lagi
Apakah aku salah bila meninggalkan mimpi dan harapan yang dulu ku anggap absurd?
Apakah aku yang tidak sabar menunggu? menunggu kebenaran yang dulunya aku ragukan.
Aku berusaha untuk tidak melukai semua orang. Kau, Mereka, Dia, dan Aku sendiri
Jika ternyata aku tetap salah. Dengan nama Tuhanku dan kau, Maafkan aku. Maaf.
Setidaknya, kau bisa menggapku saudara. Bukankah sesama muslim kita bersaudara.?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s