233

9 hari yang lalu, tepatnya 9 hari, 13 jam, 2 menit dan 23 detik yang lalu – terhitung sejak saya memutuskan untuk berbagi cerita ini dan menulisnya disini.

Pagi itu, sebenarnya tidak begitu istimewa karena memang hanyalah seperti pagi-pagi biasanya yang selalu saya jalani dan tentu saja pagi itu bukanlah ulang tahun saya. Ya, saya memutuskan untuk mengikuti acara penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi terbaik di kota Bandung setelah beberapa hari sebelumnya membulatkan niat untuk melewatkan seremonial tahunan para pejabat-pejabat kampus. Namun setelah terlanjur atau bisa dibilang secara terpaksa membeli sepotong kemeja putih, pagi itu saya seolah kembali terlempar ke 6 tahun yang lalu. Saya mulai bergaya-gaya di depan kaca memakai kostum hitam-putih, mengagumi kerutan yang mulai muncul di wajah, pertanda bahwa saya telah ‘menikmati’ beban hidup yang tidak biasa dalam kurun waktu 6 tahun terakhir. Berbeda dengan 6 tahun lalu, dimana saya masih polos, tanpa beban, tidak berdosa, dan masih sedikit ingusan. hiks.
Acara hari itu sebenarnya tidak diwajibkan bagi mahasiswa usia lanjut seperti saya (red: pascasarjana) karena memang diistimewakan untuk para semangat muda. Tapi apa boleh buat, saya kasian melihat kemeja putih yang memelas, meminta dikenakan.

Alhasil, saya dan teman saya datang 30 menit lebih awal. hee. Saya mulai celingak-celinguk, cengengesan-seperti anak kampung baru pertama kali ke mall, dan sesekali berdecak kagum melihat para intelektual muda dengan rona bangga, yang beberapa tahun lagi mungkin akan menjadi pemimpin, penemu, penjelajah, atau malah berakhir sebagai artis.Smile. Ya, saya memang punya kecendrungan untuk mengagumi orang lain, merasa orang yang saya temui sangat pintar, berbakat, serbabisa, hingga hal ini cukup berefek terhadap perkembangan mental saya yang notabene memang anak kampung, yang rajin pulang kampung, tentu saja.Salah satu teman saya yang belajar ilmu kedokteran mendiagnosa bahwa saya mengidap confidence defisit sydrome,
Sejarah confidence defisit sydrome mulai muncul saat saya melanjutkan pendidikan menengah pertama. Pada saat hari pertama sekolah. saya percaya bahwa siswa yang aktif berbicara, entah itu dengan guru, kakak kelas, teman lainnya, pemilik kantin, atau malah kucing penjaga sekolah adalah orang yang pintar. Saya, orang yang menjunjung tinggi pepatah ‘diam adalah emas’ mulai merasa minder hinggga akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan pepatah itu dan mulai membagi suara emas saya. Hari berikutnya, saya mulai meracau di kelas. Namun, sindrom ini tidak serta merta hilang, terus terulang setiap kali saya memasuki lingkungan akademis baru. Setidaknya, nilai akademis saya tidak mengecewakan. ke ke ke.

Dan tentu saja sindrom ini kambuh lagi pagi itu. Saat saya – mahasiswa dari kampung antah berantah, melihat para manusia-pemilik sebongkah otak brilian yang datang dari penjuru negeri. Semua orang yang hadir terlihat cerdas, begitu cerdas seolah soal-soal kalkulus bisa diselesaikannya dengan menutup mata, disain gedung pencakar semesta telah jelas dalam pikiran, atau teknologi genetika molekuler untuk pengobatan kanker terpeta terang dan hasilnya siap ditelurkan. Ya, pagi itu, 9 hari yang lalu, tepatnya 9 hari, 13 jam, 2 menit dan 23 detik yang lalu – terhitung sejak saya memutuskan untuk berbagi cerita ini dan menulisnya disini, semua orang dalam ruangan itu terlihat cerdas, pintar. Bahkan petugas security, cleaning service, pengantar makanan, dan cicak yang merayap di dinding pun terlihat pintar (?).

*tu kan, saya mulai meracau lagi. Ya sudahlah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s