Tentang kosan

Terkadang saya lumayan bangga ngekos disini. Gimana tidak, coba? Kosan saya terkenal di kalangan tetangga-tetangga, dari ibu ibu, tukang pos, siswa SMP yang hobi nyanyi semalaman, bapak penjual zuppa zuppa, sampai anak TK. Saya paling suka dengan lokasi strategisnya, berada di pusat gang, dengan mesjid berwarna hijau tepat +- 4 meter di sebelah kirinya. Kalau ada ceramah ataupun khutbah shalat jum’at, saya dan teman-teman kosan saya sering mencuri dengar dari kamar Be right back. Azan dari mesjid ini luar biasa keras, ga tahu juga pake pengeras suara merek apa, dijamin segala aktivitas yang memerlukan interaksi suara harus dihentikan karena memang ga bakalan kedengaran karena terkover ama suara azan.

Tapi gila, saya pernah absen mendengar gema azan ini hanya karena sebungkus nasi padang. Begini, hari itu  adalah hari presentasi tugas imunologi, yang dikenal sebagai mata kuliah paling “membunuh” di semester ini. Yah, untuk merayakan selesainya tugas itu, saya dan teman saya pun membeli sebungkus nasi padang untuk makan siang. Nah, peristiwa tragis itu terjadi setelah saya dengan rakus menghabisi nasi padang itu dan dalam beberapa menit berikutnya sayapun tertidur akibat kekenyangan. Dan gilaaa, saya terbangun saat iqamat shalat magrib Surprised smile. Ampuuun, saya tak henti-hentinya merasa bersalah karena melewatkan shalat asar yang akhirnya saya ganti atas saran dari teman saya Crying face. Hh, saya tidak menyalahkan nasi padang akibat tragedi ini, buktinya kami masih berteman baik (?).

Well, bukan ini inti dari cerita saya. Back to the story about my weird dormitory

Saya bisa dibilang beruntung dan tidak beruntung tinggal di kosan ini. Ini hidup, teman! jadi ya, saya enjoy saja. Apalagi kalau ada teman kuliah ataupun adik kelas yang mampir di kosan, dan bilang “Viaaa, enak kamu ya. kosan ku mahal, jelek lagi”. Yep, that’s make me fell better although there is something *** here. Kebanyakan dari mereka menganggap kosan saya sangat murah untuk style yang beginian. Kamar saya dilengkapi fasilitas kasur empuk, lemari, meja dan kursi belajar + ruang nonton, dapur yang luas beserta perlengkapan yang udah komplit, kulkas, dan jemuran yang cukup luas. Semua itu cuma dihargai 400 ribu dibandingkan dengan kosan mereka yang ukurannya setengah dari kamar saya, kasur di lantai, dapur kecil, tidak ada ruang nonton dan dihargai 600 ribu.. AJib! beruntung banget kan.  Saya sengaja pasang tampang songong di depan mereka Laughing out loud.. hahaa. Tapi jangan salah, ada sisi lain yang membuat mereka harus bersyukur dengan tempat tinggal mereka.

– Pengamanan di kosan saya terbilang super. Ada 4 pintu yang harus dilalui sebelum mencapai kamar. Pertama, pagar dengan gembok yang terkunci 24 jam/hari. Kedua, pintu garasi yang terbuat dari sejenis logam yang juga terkunci hampir 24 jam/hari. Ketiga, pintu rumah yang terkunci 24 jam/hari dan dilengkapi dengan sensor yang dapat mendeteksi pergerakan di sekitar pintu. Awalnya saya sering kaget karena setiap membuka pintu rumah selalu ada bunyi seperti bel dan beberapa hari setelah itu, saya baru ngeh. Sensor yang dipasang sangat sensitif, bisa mendeteksi gerakan sekecil apapun, dari jarak beberapa meter. Bahkan nyamuk yang mau lewat aja terdeteksi dan terkadang saat kami melangkah di lantai 2 pun, dapat dideteksi oleh sensor. SUPEEER Thumbs up. Tapi karena terlalu sensitif yang membuat suara bising sepanjang hari, bu kos memutuskan untuk menginaktifkan sensornya. Keempat, pintu kamar. Terbayangkan? panjangnya proses yang harus dilalui untuk keluar dan masuk rumah. Syukur kuncinya ga macet.
Tapi, kerugiannya kami lumayan repot kalau harus keluar rumah. Misalnya, beli air gallonan, mau beli sari roti, atau ada paket dari pak pos, kami harus bergerak gesit agar cepat mencapai pintu. Akhirnya, saya dan teman kos saya berinisiatif membuat suatu alat yang bisa memfasilitasi kami secara cepat dengan lingkungan luar *halaaa. Yep, pernah nonton AYAT AYAT CINTA kan? ya, semacam keranjang  yang diberi tali sehingga bisa diulurkan ke bawah jika ingin mengambil sesuatu dan ditarik lagi ke atas. Pertama kali menggunakannya, bapak sari roti bingung, ada gitu yang masih pakai beginian.

– Di kosan saya ada banyak kucing yang dipelihara oleh bu kos. Ini adalah poin yang membuat kosan saya terkenal. Ada belasan kucing dengan berbagai spesies dan warna.Saking terkenalnya, kalau saya dan teman saya memesan sesuatu yang memerlukan alamat detail, kami selalu menambahkan beberapa kata di bagian paling akhir “Jl. ***, RT **, sebelah masjid manunggal, YANG ADA KUCINGNYA Cat face“. Improvisasi di bagian akhir tersebut terbukti sangat efektif mengingat hanya di kosan kamilah kucing-kucing berkumpul. Sepertinya, bu kos memiliki anggaran khusus untuk kucing-kucingnya karena perawatannya GILAAA.. saya akan bahas tentang kucing-kucing ini di tulisan saya yang lain. Jadi, kalau tinggal disini, ya harus siap dengan aroma yang tidak wajar, “sesuatu” yang bisa menginduksi pusat muntah di otak, ataupun kehilangan makanan, ikan, ayam, daging secara ajaib.

– Suplai air yang terbatas. Ya, ini minusnya tapi kami mensiasatinya dengan membuat daftar mencuci harian. Terkadang, terpikir untuk mencari pengganti, tapi setiap memandang ke dapur, kami membatalkan rencana tersebut. Ya, segala sesuat ada baik dan buruknya, ingatlah yang baik dan lupakan yang buruk Angel.

Btw, I have to sign out. Bye

4 thoughts on “Tentang kosan

  1. Assalamualaikum kak, kakak kuliah di farmasi unand kan kak? Boleh minta kontaknya ga kak? Saya mau tanya2 kak^^ terimakasih kak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s