Reflecto de regreto

Pernahkah kau menyesali sesuatu, teman?

atau adakah sedikit, atau malah secuil penyesalan hinggap di kehidupanmu?

hah, tidak usah malu mengakui! Toh itu bukanlah aib-seperti kebiasaanmu mengupil, yang harus dirahasiakan. Dan itu juga bukan dosa, seperti keahlianmu mengintil jawaban temanmu saat ujian. Lagi pula saya bukan makhluk ‘ember’ ataupun beo yang hobi meneruskan kata per kata dari manusia lain. Ya, terkadang bisa juga sih *oopsBe right back

Tenang teman, jika pun pernah ya tidak apa apa. Langit tidak akan runtuh kok. Rasa menyesal itu wajar, sama wajarnya dengan rasa kecewa, dan sifat keluh kesah yang ada pada manusia. It’s natural, guys. Selama sodara sodari masih manusia, ya penyesalan bisa muncul dalam bentuk dan ukuran apapun. Laaaa, Mengapa saya jadi sok dramatis begini? dan mengapa pulak pagi-pagi saya  mendadak ceramah tentang penyesalan?

Sebenarnya hari ini saya sedang off ngampus, jadi pas mandangin kertas-kertas ‘post-it’ yang nempel di dinding, saya ngeliat tulisan jelek “draft ide blog”. Setelah beberapa detik loading sambil mandangin ntu kertas, pikiran saya start juga. Saya ingat, kertas itu saya tempel sekitar 2 bulan yang lalu, ya karena kesibukan persiapan pulang kampung dan lebaran,  ide dan blognya nganggur sampai 2 bulan.. sorry again *ngeles

Ok, back to penyesalan.

Penyesalan sebenarnya muncul saat kita tidak berhasil memiliki, meraih atau menciptakan sesuatu yang menurut pendapat kita pribadi, Kita bisa. Terkadang juga muncul  setelah kita memutuskan pilihan dan ternyata kita menyadari bahwa  ekspektasi kita terlalu tinggi terhadap pilihan tersebut. Atau akhir-akhir ini, dengan beragamnya media sosial dimana setiap orang berlomba-lomba memperlihatkan kehidupan mereka yang keren, yang ujungnya malah bikin mupeng manusia innocent yang mulai mengutuk dalam hati “bahagia banget hidup si budi, coba kalo gue terima kerja kerja di perusahaan ntu, pasti gue juga kayak begono”. Yep, memang selalu ada adegan berdialog dengan diri sendiri pada scene penyesalan. Dialognya pun beragam, dari yang rumit seperti masalah hidup-mati, dunia-akhirat sampai masalah remeh temeh yang menurut saya tidak penting. (Note: menurut saya ya…). Misalnya saja.

edisi bisnis dan pekerjaan

“Mengapa gue ambil bisnis warnet yak? udah modal gede, maintenance ribet, plus prospek suram. Mendingan DULU gue bisnis rumah makan padang kayak si ajo, lariiis maniiisAnnoyed

edisi jodoh

Coba kalo aye terima lamaran si doel, aye udah jadi ibu-ibu pejabat kayak mpok jaenabEye rolling smile

atau

Kok aku mau nikah ama kamu sih dulu? kalau tahu bakalan miskin, aku ga mau

atau yang ini agak religi

Ternyata suami ane ga seindah yang ane bayangin. Ane kira dia ikhwan yang pekerja keras, lembut, dan mengayomi keluarga. Sekarang ane baru kalo dia pemalas dan egois”

edisi religi

Astaghfirullah!! kok gue bisa ketiduran sampai azannya ga kedengaranCrying face

Mengapa saya dulu lebih memilih kuliah dari pada nikah ya? Coba kalau kami menikah, kami ga perlu menjalani hubungan yang hanya menambah dosa ini”. huks #tertohok

edisi ga penting

Haaahhh!! kenapa gue habisin nasinya sepanci.. waduuh, gagal deh diet gue”

“Harusnya gue pulang dari tadi, kalo hujan begini mana bisa pulang. Mana gue ga payung lagi..hiks”

Ya, tanpa kita sadari, seringkali kita menyesali sesuatu. Entah apapun itu. Tapi jika kita cermati dan review kembali, dipikirkan lagi dan diresapi bahwa ternyata setiap pilihan, keputusan dan adegan yang terjadi dalam hidup kita, skenarionya telah diatur  oleh Allah. Terlepas dari suka atau tidak makhluk-Nya. Karena di setiap peristiwa, langkah, dan apapun yang kita lihat, Allah memperlihatkan kasih sayang-Nya. Jika kita miskin atau gagal bukan berarti Tuhan benci. Introspeksilah, bisa jadi Tuhan ingin kita senantiasa bermunajat kepada-Nya dimana itu tidak akan terjadi jika kita kaya dan sukses. Bisa jadi Tuhan menyiapkan yang lebih baik dari yang ingin kita capai. Bisa jadi apa yang menurut kita baik belum tentu baik menurut pandangan-Nya.

Teman, jika kamu menanyakan apakah saya pernah menyesal. Tentu saja! saya pernah menyesal. Saya menyesal mengapa saya menolak undangan kuliah pendidikan dokter di salah satu universitas di sumatera, padahal telah menempuh ribuan kilometer. Saya menyesal  mengapa saya harus bergabung dalam suatu bisnis yang akhirnya saya telantarkan. Saya menyesal mengapa saya bersikeras untuk bekerja di perusahaan di Jakarta padahal orangtua saya berat hati mengizinkannya (walaupun akhirnya diizinkan juga).

Namun, cara Tuhan tenyata indah, teman. Saya tahu, Tuhan membiarkan saya berlelah-lelah menempuh perjalanan untuk menunjukkan bahwa saya tidak baik menjadi dokter, tuhan memilihkan pharmacist sebagai profesi yang saya dalami. Dan saya menyadarinya, bahwa potensi saya bisa tumbuh dan berkembang di farmasi dibandingkan kedokteran.

Saya tahu, Tuhan melangkahkan kaki saya pada bisnis ini untuk memperlihatkan bahwa bisnis ini tidak cocok untuk prinsip dan gaya hidup saya.

saya tahu, Tuhan membuka hati kedua orang tua saya hingga saya diizinkan bekerja di jakarta. Saya mengerti, Tuhan ingin saya merasakan sendiri apakah pilihan tersebut sesuai atau tidak dengan keinginan saya. Dan saya menyadari, passion saya bukanlah dunia industri. Potensi saya mandek dan mati disini.

Hingga akhirnya renungan-renungan saya mengantarkan saya pada suatu muara. Refleksi dari penyesalan.

Tuhan membiarkan saya dan orangtua saya menghabiskan waktu, tenaga, dan uang menuju universitas tersebut agar saya mengetahui bahwa tempat ini bukan untuk saya. Pendidikan saya tidak akan berjalan lancar dengan kondisi tersebut dan di masa depan saya tidak akan bergumam “seandainya saya kuliah kedokteran, saya pasti sudah jadi dokter kece”

Tuhan juga tidak menahan saya untuk mencoba bisnis tersebut agar setelah saya masuk dan mengetahui bisnis tersebut bertentangan dengan prinsip saya. Dengan begitu, saat melihat teman-teman lain yang sukses di bisnis yang sama, saya tidak berujar “Coba kalau saya masih bertahan dan konsisten di bisnis tersebut, saya sudah keliling dunia seperti mereka”

Tuhan mengizinkan saya mencicipi pahit manisnya dunia perusahaan agar kelak saya tidak berkata “seandainya saya bekerja di industri farmasi, karir saya pasti cemerlang seperti mereka”

Saya sadar, kehidupan yang saat ini saya jalani adalah yang terbaik yang dipilihkan Tuhan untuk saya. Di saat teman-teman saya sibuk dengan aktivitas pekerjaan mereka, berseragam necis, dengan pemasukan rutin per bulan, saya malah sibuk dengan perkuliahan, masih menyadang ransel, berkutat di koridor kampus. Saya tidak menyesal lebih memilih kuliah dibanding bekerja, saya menikmatinya. Semakin banyak saya belajar, saya semakin kagum akan kebesaran Tuhan. Lagi pula, tidak perlu menyesal. Bisa jadi pilihan yang kita ambil membawa kita pada petualangan dan pengalaman berharga,yang belum tentu didapat oleh orang lain (yang kita anggap sukses).

So, just think positive and don’t curse yourself. Cause Allah is always by yourside

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s